Terbaru

Sentuhan Nilai dari Sebuah Kaset


HujanMusik!, Bogor - Sekian lama tak mengikuti perkembangan musik indie dan/atau underground, rupanya cukup memberikan rentang waktu yang membuat saya tertinggal dalam beberapa hal. Bagi mereka yang update tentu bukan soal. Seperti halnya ketika saya cukup terkejut manakala menjumpai satu kondisi, di mana band-band lokal Bogor tampak rajin merilis (produksi) album dalam bentuk kaset. Awalnya saya pikir ini semacam nostalgia atau strategi pemasaran semata, rupa-rupanya lebih luas dari itu.

Usut punya usut, tren ini bermula di Inggris, ketika beberapa label bergabung dan membuat sebuah event bertajuk “Cassette Store Day” pada 7 September 2013, silam. Para penggagas event ini, yaitu Steve Rose, DJ Jen Long dan Matt Flag, sebagaimana dalam publikasi NME, menyatakan bahwa event itu awalnya hanya bertujuan sebagai perayaan saja. Bentuknya pun cukup dengan memproduksi beberapa album dalam bentuk kaset secara terbatas, yang kemudian disebar di beberapa toko musik. Dalam pelaksanaan distribusinya, beberapa toko musik tadi juga menggelar live band performance.

Mendengarkan musik melalui kaset, bagi mereka, memberikan pengalaman dan sentuhan yang unik dan punya nilai tersendiri. Sebuah pengalaman yang, saya rasa, tak akan bisa dialami oleh generasi milenial atau generasi Z, bahkan setelah acara tersebut banyak diselenggarakan di beberapa kota di dunia, termasuk di Indonesia.


Yap, di luar dugaan, perayaan “Cassette Store Day” mendapat banyak respon yang baik. Dugaan saya respon inilah yang memicu beberapa label mulai mengeluarkan album dalam bentuk kaset.


Bogor rupanya tidak lepas juga dari fenomena kaset tersebut. Beberapa label seperti Hujan! Rekord dan Kick It sudah mulai mengemas album beberapa band rilisannya dalam kaset. Bahkan beberapa band seperti Heaven In, The Mentawais dan The Kuda, hanya menjual albumnya dalam bentuk kaset, terlepas dari terdapatnya lagu-lagu mereka yang bisa didengar di berbagai media daring.

Peloy, dari Kick It Record, dalam satu perbincangan dengan rekan Rizza memaparkan, hingga saat ini album fisik tersebut sudah ada yang terjual hinga 150 keping. Jumlah itu mungkin memang tidak besar, tapi menurut saya, itu adalah pencapaian yang luar biasa mengingat mereka adalah band indie yang hidup di tengah era digital.

Bagi saya yang lahir di tahun 80-an dan sempat mengalami era di mana kita harus sering menekan tombol fast, rewind, atau memutar gulungan dengan menggunakan pensil, tren ini memancing saya untuk membongkar lemari dan memainkan kembali beberapa kaset yang saya koleksi. Walaupun, sedihnya, suara yang keluar kadang-kadang ngagaleong, entah karena pita yang rusak atau head yang harus digesek korek kuping.


Di antara koleksi saya itu, ada beberapa album dari band lokal Bogor, yang beberapa di antaranya masih berkarya sampai sekarang. Mungkin saya akan bahas lain waktu.

Tidak ada komentar