Terbaru

Rumah Kopi dan Sekelumit Hardcore Bogor


HujanMusik!, Bogor -  Dalam film "Serendipity",  Sara Thomas (diperankan Kate Beckinsale) menganggap pertemuannya dengan Jonathan Trager (diperankan John Cusack) adalah sebuah takdir, atau fathom dalam bahasa Yunani. Sara selalu percaya bahwa setiap peristiwa pasti ada sebab dan tujuannya. Sementara Jonathan menyebutnya sebagai serendipity atau ketidaksengajaan yang menguntungkan.

Saya sendiri berada di sisi Sara yang berpegang pada ketentuan takdir, bukan ketidaksengajaan. Saya haqqul yakin semua kejadian di semesta ini sudah dirancang dalam sebuah skenario maha dahsyat. Malah, saya pikir, ketidaksengajaan itu merupakan sesuatu yang sudah direncanakan sebelum dimulainya kehidupan duniawi. Singkatnya, ketidaksengajaan adalah bagian dari takdir itu sendiri.

Takdir pun membimbing saya siang itu. Saat sedang menikmati suguhan musik dari Antawali band di panggung sebuah waterpark, saya mendapat undangan ngopi bareng dari Lusdi, seorang jejaka yang juga bagian dari skena hardcore Bogor. Saya mengiyakan ajakannya karena sudah lama tidak berjumpa dan siapa tahu ada sesuatu yang bisa dibagikan kepada KawanHujan.

Sebelum berangkat ke Rumah Kopi Nuland yang jadi titik bertemu, saya ajak RekanHujan lainnya, Brok dan Tio. Mereka pun tertarik untuk ikut. Akhirnya, saya dan Brok berangkat menggunakan satu motor, sementara Tio menunggu di Jalan Pandu Raya. 

Maksud hati ingin segera sampai di Rumah Kopi Nuland, namun apa daya, lalu lintas sangat krodit (crowded -red) sore itu. Hari minggu mestinya digelari hari terkutuk di kota ini, dan harus ada fatwa yang mengharamkan untuk bepergian di Kota Bogor pada hari itu. Tapi saya dan Brok tidak boleh mengeluh, karena ini bagian dari takdir yang tidak bisa dihindari.

Sekitar satu setengah jam kemudian sampailah kami di Nuland. Ternyata di sana sudah ada Lusdi, Adhit dan Doyo. Sebelum obrolan dimulai saya dan Tio memesan Chocolate Ice, sementara Brok si penggila Coffeemix mencoba Hot Chocolate.

Kemudian, seolah tidak sabar, ada yang bertanya apa itu HujanMusik. Kami bertiga mencoba menjelaskan bahwa HujanMusik adalah sebuah pergerakan kolektif yang mencoba menggali segala sesuatu tentang musik di Bogor, semua akan disentuh tanpa ada pengkotak-kotakan. 

Belum lama kami berbincang, Denda dan Arief 'Peloy' yang juga bagian dari Rain City Hardcore Crew (RCHC) datang dan ikut bergabung. 

Ketika ditanya bagaimana perkembangan skena hardcore di Bogor saat ini, semua sepakat bahwa ada sedikit kemunduran, terutama soal regenerasi. Lusdi, Adhit, dan Denda, yang aktif di RCHC sejak 1998 menjelaskan bahwa ada kesalahan dari mereka yang lebih dulu berkecimpung di skena ini. 

"Kita yang tua-tua melupakan soal regenerasi, nggak nyentuh dan komunikasi secara intens dengan yang lebih muda kayak Peloy," papar Lusdi, mantan gitaris Marra.

Adhit menambahkan, "Mungkin karena kita-kita ini sekarang fokusnya nggak cuma ke sana, tapi ada yang mikirin keluarga sama kerjaan juga".

Seolah mengamini, Peloy mengatakan dia pernah merasa sendirian di skena. Bukan karena tidak ada teman, tapi baik yang senior maupun seangkatannya sama-sama pasif. Beruntung, lambat laun dia akhirnya bisa masuk ke lingkaran seniornya.

"Gua merasa beruntung bisa deket sama om-om ini. Hangout bareng, diskusi, dan sharing informasi."

Lalu, dia menceritakan awal mula bisa kenal dan diterima oleh Lusdi dan kawan-kawan.

"Dulu, gua sering beli merch ke mas Titan (Revolt). Terus dia nanya, 'Lo ngeband juga?' Gua bilang iya. Nah..dari situ akhirnya sering komunikasi dan kenal sama yang lain."

Setelah dirunut, ternyata generasi RCHC pernah putus di sekitar tahun 2012. Saat itu skena hardcore vakum. Penyebabnya beragam, mulai dari terbatasnya venue, terutama untuk kalangan underground, hingga peralihan jaman dan pergeseran kultur yang dianut oleh anak -anak muda saat itu. Dan sebenarnya masalah ini juga terjadi di skena underground lain.

"Selain itu, bisa juga karena adanya perasaan canggung dari generasi baru untuk bersosialisasi dengan pelakon lawas. Kaku banget lah istilahnya," kata Denda.

Sebelum tahun 2012, atau tepatnya di era tahun 2000-an, banyak komunitas musik underground di Bogor. Mereka tersebar di beberapa tempat seperti Matahari (Taman Topi), Telkom, Bogor Plaza, dan sekitaran Bantar Jati yang menjadi tempat berkumpulnya komunitas punk Ucing Garong. Komunitas-komunitas tersebut biasanya dihuni oleh orang-orang dari berbagai genre, dan hal ini menyebabkan skena underground begitu riuh saat itu.

Masa itu lewat, skena underground Bogor terasa sepi, termasuk RCHC yang terlihat seperti berjalan sendiri-sendiri. Karena itu, harus ada wadah seperti komunitas terdahulu yang menaungi para pelaku skena ini. Dari sana bisa dimulai kembali pergerakan yang bersifat terbuka dan merangkul generasi baru.

"Kita udah cukup kesulitan membagi waktu, makanya sekarang Peloy dan teman-teman seangkatannya yang harus aktif dan membesarkan RCHC. Minimal stagnan, nggak mundur lagi." ujar Lusdi yang belakangan menekuni bisnis di bidang perkayuan.

"Gua rasa, ada kekurangan effort dari sebagian temen-temen di skena. Bahkan untuk sekedar membaur. Contoh, mereka pengen maen di satu gig, tapi nggak mau ikut nongkrong atau jemput bola. Harusnya kan ikut aktif juga, gimana caranya biar bisa terlibat." timpal Peloy, drummer Grave Behold sekaligus pemilik Kick It Records.

Semakin malam, obrolan semakin seru. Cangkir kopi diisi ulang, cemilan kembali dipesan. Sayang tidak ada makanan berat di sana, padahal perut saya keroncongan.

Pembahasan berlanjut mengenai perkembangan musik secara umum yang ada imbasnya pada musik hardcore. Banyaknya jenis musik baru yang bermunculan, sedikit banyak mempengaruhi generasi milenial dalam menentukan pilihan musik mereka. Beberapa tahun belakangan, folk merajai dunia musik indie, hardcore seolah kehilangan tempat.

"Kita nggak bisa paksa orang untuk satu selera dengan kita. Kalo orang suka Payung Teduh, ya kita nggak bisa paksa dia untuk suka Take One Step. Itu kan hak mereka." ujar Denda, sang pemilik Mylo Barbershop.

"Sebenernya nggak terlalu pasif atau sepi juga sih, soalnya band hc ada yang terus eksis dan mengeluarkan karya atau manggung di banyak tempat. Stand Clear masih sering manggung. Cuma memang lebih sering di luar kota, nggak di Bogor. Take One Step juga lagi proses bikin album. Mereka malah sering main di luar Indonesia." kata Adhit, mantan vokalis Defence Mind yang sekarang berprofesi sebagai guru.

Derasnya serangan karya band luar dan variasi musik yang lebih beragam membuat generasi sekarang melupakan band dari kotanya sendiri.

"Generasi milenial mempunyai sifat rasa ingin tahu yang tinggi, ini mengakibatkan mayoritas influence mereka berasal dari band-band luar. Mereka kurang begitu familiar dengan band lokal Bogor itu sendiri." lanjut Adhit.

Lusdi menambahkan bahwa band lokal yang ada kurang aktif dalam promo dan proses interaksi dengan penikmatnya tidak begitu dihiraukan.

"Makanya seperti stuck, rame di antara temen-temen doang. Harus diubah polanya. Solidaritas sama militansi harus ditumbuhin lagi, biar terus berkembang." katanya.

Masih banyak hal yang ingin saya diskusikan dengan mereka, sayangnya setelah berkeluarga ada batas tertentu yang harus dijalani. Takdir yang mempertemukan saya dengan RCHC malam itu, takdir pula yang memaksa saya dan Tio untuk pulang duluan. Semoga saja, saya bisa berkumpul kembali dengan mereka, seperti Sara dan Jonathan yang sempat terpisah tapi -sekali lagi- takdir dalam Serendipity mempersatukan mereka kembali.

Sementara Brok masih di sana, bicara dengan Doyo untuk memperdalam materi tentang Superiots dan Rumah Kopi Nuland.

Tunggu saja hasilnya di HujanMusik!

Tidak ada komentar