Terbaru

Menyelami Bahasa Hati Sandra Fay


Sandrayati dan EP Bahasa Hati. Semua lirik dan aransemen gitar dalam album pertamanya ini dibuat oleh Sandra sendiri, sedangkan penggarapannya dibantu beberapa musisi lain. Enam track “Bahasa Hati” adalah pengejawantahan idealisme dan cinta seorang Sandayati Fay terhadap kehidupan. Foto: HujanMusik!/Rizza Hujan

HujanMusik!, Bogor
– Tidak ada yang lebih jago dalam hal bikin kejutan yang bisa menyenangkan hati saya selain Anggit. Setelah menularkan ketenangannya dalam menjalani hidup, dia –sekali lagi- mengaktifkan hormon endorfin saya dengan kabar “Kantor gue syukuran, ada Sandra perform.”

Saya yang tengah menghadapi para peserta Para d’hook Kustik jadi tidak tenang karena waktunya bersamaan. Saya selesaikan dengan cepat technical meeting di d’hook karena ingin mengejar Sandra.

Tiba di Jalan Tampomas, rupanya acara belum dimulai. Ah selamat... saya bisa duduk dengan tenang sambil makan bakso malang dan menampilkan senyum selebar Joker dalam franchise "Batman".

Kira-kira satu jam kemudian, Sandra Fay, penyanyi berdarah Amerika-Filipina, tampil di dengan set list panggung minimalis, akal-akalan Anggit dan teman-temannya. Dia membawakan beberapa materi dari Extended Play (EP, -red) “Bahasa Hati” yang belum lama ini rilis. Ditambah lagu yang selalu dia bawakan seperti “Pulang” milik Float dan “Kita”, karya bersamanya dengan Nosstress, membuat sore saya waktu itu bergelimang bahagia.

Seperti biasa, Sandra tampil sederhana dengan gaya anggun memesona. Soal teknik bernyanyi jangan ditanya, follower akun media sosialnya yang berbanding lurus dengan jumlah jomblo di kota Bogor (sangat banyak) akan sepakat bahwa Sandra seorang diva. Penghayatan luar biasa selalu merasuki Sandra saat bernyanyi. Lantang, merdu, sekaligus gelap, terpancar dari dalam dirinya. Dengan gitar di tangan, Sandra memiliki aura yang bisa menghancurkan persepsi umum tentang definisi cantik.

Kedua kalinya dalam hidup berbincang dengan musisi yang tinggal di Bali itu, saya menyimpulkan bahwa dia semakin matang dan dewasa. Bukti sahihnya adalah cara dia memaknai “Bahasa Hati”. Meski kadang tersekati oleh pemahaman bahasa Indonesia, tapi saya bisa menangkap dan menyimpulkan bahwa “Bahasa Hati” diibaratkan bayi yang sangat diidamkan Sandra sejak lama. Isinya bercerita tentang definisi seni, identitas, dan alam, menurut pemikirannya sendiri.

 “Bahasa hati direkam di House of Masks and Puppets (Rumah Topeng) di Bali. Aku sulap tempat itu jadi studio, bawa teman-teman dan alat ke sana,” ungkap dara 23 tahun tersebut.

Semua lirik dan aransemen gitar dalam album pertamanya ini dibuat oleh Sandra sendiri, sedangkan penggarapannya dibantu beberapa musisi lain. Enam track “Bahasa Hati” adalah pengejawantahan idealisme dan cinta seorang Sandayati Fay terhadap kehidupan.

Sandra yang menetap di Pulau Dewata, aktif dalam organisasi One Dollar For Music Foundation. Kemarin, Sandra diundang untuk bernyanyi dalam perayaan rumah baru Samdhana Institute di Bogor, sebuah organisasi yang berfokus pada hak-hak masyarakat, lingkungan dan adat di seluruh Asia Tenggara. Dan dia berhasil melelang lima cakram padat "Bahasa Hati" yang hasilnya akan digunakan untuk proyek kemanusiaan.

“Senang sekali bisa main di Bogor. Ketemu keluargaku, teman-temanku, I love you all,” kata Sandra di sela penampilannya.

Petikan gitar bernada muram kemudian mengalun megawali “Rise Warrior”. Pandangan orang-orang di halaman belakang rumah Samdhana pun terpaku pada wanita yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah musik di Amerika itu.

Ketika ditanya tentang genre yang dianutnya, Sandra menjawab secara bijak. “Folk, pop, atau alternative maybe, aku tidak membatasi diriku sendiri soal itu. Yang penting aku melakukan sesuatu untuk bumi, berkarya lewat musik,”.

Bagaimana dengan Daramuda? Mmmm...itu rahasia, antara saya dan Sandra.

Tidak ada komentar