Terbaru

Menerjemahkan Celoteh "A, stiker atuh aaa..."

Mereka yang sering hadir dalam acara musik, terutama di Bogor, pasti tidak asing, entah siapa yang memulai dan kapan hal itu jadi tren. Yang pasti, sejak tahun 90an hingga sekarang ungkapan itu masih sering terdengar.
Ilustrasi : Graditio
HujanMusik!, Bogor - Dalam sebuah arena konser musik, tentu banyak hal menarik yang terjadi dan tidak akan pernah habis untuk dibahas. Perhatian utama tetap pada line-up pengisi acara jika itu sebuah festival, di mana banyak band atau penyanyi tampil. Atau, bila dalam sebuah konser tunggal musisi besar, maka secara otomatis dia akan jadi headline.

Sudah banyak cerita terekam dalam sebuah perhelatan musik. Ada yang biasa saja, unik, bahkan absurd. Memang semua tergantung perilaku musisinya sendiri. Di dunia metal, Ozzy Osbourne identik dengan meminum darah atau memakan kelelawar hidup-hidup. Lebih maju lagi, Slipknot dengan Corey Taylor sebagai komandan, tidak pernah lelah memaki dan memerintah 'anak buahnya' di depan panggung. Jongkok, melompat, menabrakkan diri, bahkan memukul sudah menjadi hal biasa saat Slipknot manggung.

Lain lagi dengan Lars Frederiksen dari Rancid. Dedengkot punk yang satu ini gemar melakukan pogo dengan gerakan kaki yang dinamis seolah dia sedang menari.

Di Bogor, musisi-musisinya memang tidak seliar mereka. Tapi tetap saja menarik untuk disimak. Bepe The Jakasembung adalah salah contoh manusia liar saat sedang di atas panggung.

Tapi, saat ini saya tidak ingin membahas mereka yang memang pekerjaannya mengharuskan berlaku semena-mena demi menghibur kerumunan massa di depannya. Saya coba menyelami perilaku penonton sebuah pagelaran musik, lebih khususnya tentang celotehan yang sering jadi tren.

Hippies, Hipster, atau anak gig, biasanya mempunyai identitasnya sendiri. Hippies dengan gaya vintage bebasnya, hipster dikenal sebagai fans kelas elit, atau anak punk yang tampil seadanya. Dan ada satu ungkapan unik dari para penonton, terutama kalangan underground atau indie saat menyaksikan band kesukaannya tampil.

"A, stiker atuh aaa..." saat hajat musik underground sering terdengar celoteh seperti itu. Mereka yang sering hadir dalam acara musik, terutama di Bogor, pasti tidak asing dengan kalimat yang dalam bahasa Indonesia berarti "A, minta stiker dong aaa..,".

Entah siapa yang memulai dan kapan hal itu jadi tren. Yang pasti, sejak tahun 90an hingga sekarang ungkapan itu masih sering terdengar.

Pertanyaannya, apa menariknya selembar stiker bertuliskan nama band itu? Lebih jauh lagi, apa manfaatnya?

Bagi bandnya sendiri, stiker memang dikenal sebagai media promo murah meriah. Secara tidak langsung, die hard fans mereka jadi marketing berjalan untuk si band.

Lalu untuk penikmat, mungkin merchandise berbentuk stiker menjadi satu hal yang bisa dibanggakan di antara komunitasnya. Semakin banyak stiker maka semakin meningkat reputasinya sebagai anak gig. Stiker adalah bukti bahwa orang tersebut sudah melanglang buana dari panggung ke panggung untuk menyaksikan dan berinteraksi dengan band favoritnya.

Di masa sekarang, kadang ungkapan itu jadi bahan candaan tapi menjurus ke serius untuk mendapatkan stiker.

Dalam satu postingan Instagram HujanMusik! ada komentar dari Fakehero berbunyi "A, stiker atuh aaa..,". Apakah itu artinya Fakehero yang isinya Superiots mengidolakan HujanMusik!? Saya ragu... Tapi jika ada yang bertanya "Apakah HujanMusik! mengidolakan Superiots?," maka kami akan menjawab dengan mantap "IYA!!".

"Aa Superiots, stiker atuh aaa...,"

Tidak ada komentar