Terbaru

Katapel yang Lantang Bertenaga dan Menderu Jiwa


Ketapel pada penampilannya di Hujan Monolog 2016 lalu. Foto : Mubabrok.
HujanMusik!, Bogor - Masih teringat, ada rasa haru dan bangga ketika menyaksikan konser tunggal Katapel di Gedung Kemuning Gading, April 2017 lalu. Tata panggung dan kemasan pertunjukan yang artistik, teriak lantang penuh tenaga dari Ichbal, serta paduan beragam bunyi yang mampu menggetarkan jiwa.

Yakin, bukan hanya saya yang merasa demikian, raut wajah ratusan penonton menyatakan hal serupa. Tapi perasaan itu muncul dan lebih berarti karena saya mengenal mereka sejak kami masih berstatus mahasiswa. Kuliah di kampus yang sama meski berbeda fakultas, dan memiliki kegemaran yang tak jauh beda, membuat kami sering kongkow, sekedar ngopi atau diskusi dan bercengkrama.

Saat itu, nama Katapel belum terbentuk. Mereka, mahasiswa-mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNPAK yang menyukai baik musik maupun puisi, masih bernaung di bawah himpunan mahasiswa jurusannya, Diksatrasia.

Pada awal perjalanannya, konsep musik yang mereka usung terbilang sederhana dengan instrumen yang mudah didapatkan dan  dimainkan, seperti gitar, suling, piano, biola dan jimbe. Tapi Doni, yang luar biasa dalam menerjemahkan feel ke dalam nada, dan Ichbal, dengan karakter vokal yang kuat, dua pentolan Katapel itu memang seolah ditakdirkan untuk berkarya bersama.

Sejak tahun 2013 Katapel terbentuk, kabarnya masih sering saya simak meski kampus tidak lagi menjadi tempat kami menghabiskan hari. Tapi untuk bertemu secara langsung, tidak sesering sebelumnya. Sempat beberapa kali melihat tayangan video mereka baik di kanal YouTube Katapel maupun kanal lain dalam beragam acara di lokal Bogor maupun nasional. Di ranah musikalisasi puisi, bisa dikatakan Katapel lah yang mewakili Bogor saat ini.

Entah apa alasan sebenarnya mereka memilih nama Katapel. Menurut Ichbal, arti Katapel itu “Kami adalah senjata beramunisikan kata. Kitu simpel na he..he..” Sementara Doni hanya menjawab, “Biar misalnya mendunia, ada ciri khas Indonesia-nya”. Amin.

Katapel Musikalisasi Puisi. Begitu nama lengkap kelompok ini. Terdiri dari tujuh musisi, yaitu Doni Dartafian (violin, trumpet, mandolin), Ryza Satriana Putra (gitar), Chairil Anwar (jimbe, bongo, udu, didgeridoo), Irvan Agustin (rebana terbang, recorder, pianika), Ichbal Tawakal (vocal dan gitar), Hakim Salman (saron, tehyan, tin whistle), dan Ristyo Pahlawan (bass).

Yap, seperti yang KawanHujan simak, konsep musik Katapel kini sudah jauh berkembang menjadi lebih variatif dan kompleks. Iringan bunyi dan nada yang dipilih secara hati-hati dalam lagu-lagunya, mampu memperkuat makna dari puisi-puisi yang mereka bawakan.

Hingga saat ini, Katapel telah memusikalisasipuisikan lebih dari 10 puisi, diantaranya karya W.S. Rendra, Chairil Anwar, Sutardji Calzoum Bachri, Gemi Mohawk, dan Khrisna Pabichara. Selain musikalisasi puisi, Katapel juga memiliki lagu-lagu ciptaan sendiri, diantara berjudul “mohonpohon”, “Batas”, “Rahasia”. Untuk menyimak, KawanHujan bisa mampir di kanal soundcloud Katapel.

Beberapa karya Katapel (musikalisasi puisi dan lagu sendiri) sempat mereka kemas dalam bentuk CD yang diproduksi sendiri dan dijual sesuai order. Menurut Ichbal, yang saya hampiri sebelum sessi latihan Katapel di kampus UNPAK, album tersebut terjual sekitar 300 copy.

“Kita jual pre-order karena ga ada dana. Biayanya kan ga kecil untuk bikin album. Soalnya kita produksi sendiri, belum punya label. Katapel belum punya management yang kuat. Masih dikelola oleh personil dan teman-teman yang bersedia membantu di management,” jelas Ichbal dalam obrolan minum kopi kami.

Wilayah musikalisasi puisi memang tampak tidak terjamah oleh scene musik indie pada umumnya. Menjadi sedikit rumit, karena musikalisasi puisi berasal dari karya penyair yang sudah memiliki hak cipta. Niat menjadikannya komoditas tentu harus mendapat izin dari penulisnya.

Memang, beberapa kali Katapel diminta secara langsung untuk memusikalisasipuisikan puisi oleh penyairnya. Misalnya puisi “Makromelia Sendu” karya Khrisna Pabichara, seorang penulis dan penyair Bogor yang beberapa waktu lalu menerbitkan dua buah novel, atau oleh Lis Wihayanti, yang tahun 2015 lalu melakukan launching buku antologi puisi berjudul “Resonansi Tiga Hati” di Bogor.

Di luar itu, serupa dengan musik indie pada umumnya, Katapel mendapat “ongkos latihan” dari panggung ke panggung, baik pentas atas undangan maupun konser tunggal, seperti yang mereka lakukan selama 2 hari pada April 2017 di Gedung Kemuning Gading, yang mendatangkan total sekitar 1500 penonton. Sebuah angka yang luar biasa.

Ketika ditanya mengenai perkembangan musikalisasi puisi di Bogor, Ichbal menjawab dengan agak sedih, “Kayaknya di Bogor emang ga ada lagi selain Katapel (yang produktif dan konsisten bermusikalisasi puisi, -red). Kebanyakan acara musikalisasi puisi kan lomba buat SMA doang. Makanya kita punya mimpi pengen bikin lomba musikalisasi puisi untuk umum.”

Melihat perkembangan musik yang didukung teknologi informasi saat ini, saya dan Ichbal optimistis bahwa trend konsep musik akustik yang sedang marak di tanah air membuat musikalisasi puisi berada di depan pintu yang terbuka lebar. Setelah hadirnya kelompok seperti Dua Ibu, yang mengemas beberapa puisi karya Sapardi Djoko Damono dengan sangat luar biasa, atau disusul apresiasi dari musisi-musisi populer seperti Anji, Banda Neira, Frau, Fajar Merah dan Cholil Mahmud (Efek Rumah Kaca), semakin memperkaya referensi dan keberanian bagi siapa pun yang ingin mencoba mengemas puisi menjadi sebuah lagu.

Musikalisasi puisi memang memiliki tantangan dan daya tarik tersendiri. Kesulitannya tentu saja terletak pada proses translasi dari puisi ke nada dan musik tersebut. Memahami sebuah puisi saja tidak mudah, apalagi menjadikannya lagu. Dibutuhkan intuisi dan interpretasi yang dalam dan tidak sekenanya.


Penawarnya adalah, menghasilkan karya musik dengan lirik yang kuat, penuh gagasan dan puitis, tentu bisa memberikan kepuasan yang lebih bagi pembuatnya serta bagi pendengarnya. Karena apa artinya musik jika hanya menjadi barang dagangan dan hiburan semata. Musik lebih dari itu, sebagaimana musisi lebih dari sekedar entertainer.

Tidak ada komentar