Terbaru

Agria Swara, Konser Internal Setelah Juara di Irlandia


Foto : Husni Mubabrock.

HujanMusik!, Bogor - Sabtu siang (13/07/2017), di sebuah grup whatsapp, seorang teman bernama Nana Gemblong mengirimkan foto promo acara pertunjukan paduan suara dari kelompok Agria Swara, sebuah unit kegiatan mahasiswa dari IPB. Sangat terkejut ketika saya melihat tulisan “Ticket Sold Out” di foto itu. Lebih terkejut lagi ketika mengetahui bahwa pertunjukan itu akan berlangsung malam harinya, tepatnya jam 19.00, di Gedung Kemuning Gading, komplek Balai Kota Bogor.

Saya langsung menghubungi narahubung acara tersebut untuk bertanya apakah saya bisa nyelip untuk menonton dan memberikan kabar kepada KawanHujan perihal pertunjukan yang akan berlangsung. Untungnya, dan terima kasih, mereka mempersilahkan dengan tangan terbuka.

Ada dua  hal yang membuat saya tertarik menyaksikan pertunjukan bertajuk “The 4th Internal Concert - La Vacanza: Venturing The World Through Music” itu.

Pertama, kelompok PSM Agria Swara adalah salah satu kelompok paduan suara mahasiswa di Indonesia yang beberapa kali mendapat prestasi di kancah internasional. Salah satu yang paling membanggakan, dan yang terbaru, adalah meraih juara pertama dalam kategori Mixed Choir pada The 4th City of Derry International Choral Festival di Irlandia Utara, Oktober 2016 lalu.

Kedua, pertunjukan tersebut digelar di Gedung Kemuning Gading, yang notabene kualitas akustik ruangnya sangat tricky karena memang tidak dirancang, dan belum cukup representatif,  untuk menjadi gedung pertunjukan.

Sekitar pukul 18.30 saya tiba di lokasi dan bertemu Nana Gemblong yang sedari siang sudah ada di sana. Sambil menunggu, kami bercengkrama bersama Asep, Deni dan Mang Ade, para kuncen Kemuning Gading.

Penonton mulai berdatangan, yang kebanyakan tampaknya merupakan mahasiswa IPB. Beberapa diantara mereka ada yang datang dengan menyewa angkot jurusan Ciampea – Bubulak. Seru sekali, pikir saya.

Diantara penonton yang datang, hadir juga salah satu teman bernama Rendi, seorang musisi dari kaki gunung Pangrango dan merupakan pelatih paduan suara di salah satu kampus swasta di Bogor. Semakin seru saja, karena saya dan Rendi termasuk dari beberapa orang yang sering dibuat gemas oleh akustik ruang di Gedung Kemuning Gading.

Selepas pintu dibuka, saya memilih naik ke balkon walau panitia yang cantik-cantik dengan hangat mempersilahkan saya duduk di kursi. Nana Gemblong sudah lebih dulu bertengger di sana. Balkon menjadi pilihan karena suara yang terdengar di sana lebih jelas, dan secara visual pun, seluruh bagian panggung terlihat. Tak lama berselang Rendi menyusul dengan alasan, “Di sini lebih enak. Hampir semua frekwensi suara terdengar.”

PSM Agria Swara sepertinya juga menyadari tricky-nya akustik ruang Kemuning Gading. Mereka membuat panggung sendiri, ditempatkan dekat dengan penonton. Panggung utama Gedung Kemuning Gading yang sekarang sudah dilengkapi tata cahaya itu hanya dijadikan latar dan pintu keluar-masuk para penyanyi PSM Agria Swara. Sebuah eksplorasi yang cukup berani dan impresif.

Hal lain yang menarik adalah mereka sama sekali tidak menggunakan bantuan microphone. Saya pribadi justru merasa lega, karena dengan begitu, saya bisa mendengar suara asli sesuai sumber, bukan suara yang difilter oleh setting equalizer tertentu, lalu keluar melalui speaker yang kemudian bertabrakan dengan suara pantulan gedung.

Sesuai nama acara, “The 4th Internal Concert - La Vacanza: Venturing The World Through Music” adalah pertunjukan internal yang menampilkan dua angkatan termuda dari PSM Agria Swara, yaitu angkatan 2015 dan 2016. Menampilkan sekitar 50 orang penyanyi dan 4 dirigen, dan membawakan 15 lagu yang terbagi menjadi 4 sessi, yaitu klasik, folklore internasional, folklore nasional dan pop.

Tak perlu ditanya, para anggota PSM Agria Swara memang memiliki kualitas vokal yang luar biasa, bahkan bagi para anggota termudanya. Saya bukan seorang yang paham teori olah dan tata suara, tapi dalam lagu-lagu yang mereka bawakan, bisa terdengar jelas pembagian vokal yang apik dan akurat. Nyaman sekali.

Dari lagu-lagu yang dibawakan, yang paling menarik adalah “Hela Rotan”, sebuah lagu daerah dari Maluku yang diaransemen oleh Ken Steven, seorang komponis muda kelahiran Sumatera Utara. Lagu ini dikenal rumit dan sulit karena memiliki komposisi nada yang kontra. Dengan tempo yang cepat dan ceria khas lagu anak-anak, PSM Agria Swara menyajikannya dengan sangat baik dan menarik, ditambah dengan sisipan koreografi yang sederhana namun attraktif.

Sepanjang pertunjukan, saya lebih sering menyimak sambil memejamkan mata. Karena justru dengan begitu, saya lebih bisa menikmati lagu-lagu yang dibawakan. Gedung Kemuning Gading yang terlalu luas membuat mata saya selalu menangkap kebocoran yang tak sedap dipandang. Ditambah, pertunjukan ini secara visual disajikan dengan minimalis, sedikit saja mereka memanfaatkan tata cahaya atau aspek panggung lainnya.

Selepas acara, ingin hati untuk berbincang dengan wakil dari PSM Agria Swara dan menanyakan beberapa hal, misalnya terkait persiapan mereka setelah lolos sebagai peserta dalam salah satu kompetisi nasional terbesar di Indonesia, yaitu Festival Paduan Suara XXV ITB, yang akan diselenggarakan pada 15 - 20 September 2017 nanti. Tapi mungkin waktunya kurang tepat.

Sebelum pulang, saya kembali berkumpul sejenak dengan Nana Gemblong dan Rendi. Saya dan Nana tersenyum menggoda pada Rendi, yang tampak sangat tertantang dengan pertunjukan yang dia saksikan. Alangkah bahagianya kami ketika mendengar dia sedang menyiapkan pertunjukan serupa bersama kelompok paduan suara binaannya. Mudah-mudahan, setelah itu, kelompok paduan suara dari beragam instansi di Bogor pun akan menyusul. Siapa tahu.

Tidak ada komentar