Terbaru

Dongeng Kritik Akar Bambu


Mas Muh [bertopi-kacamata] dan pengisi acara peringatan Hari Bumi di P4W IPB (22/4/2016). Foto : dok.cocktailsjammin
Artikel : Dony PH

HujanMusik!, Bogor - Perjumpaan saya dengan kelompok musik Akar Bambu terjadi pada pertengahan 2013. Kebetulan kami diundang komunitas Malam Puisi Bogor di salah satu resto asik di pusat Kota Bogor. Jauh sebelum bertemu Akar Bambu, saya sudah mengenal Muhammad Nur Amin, sang vokalis Akar Bambu. Saya memanggilnya Mas Muh.

Di IPB Dramaga, saya terkesima dengan penampilan Mas Muh dalam memainkan gitar. Saat itu komunitas Wahana Telisik Sastra mengundang Mas Muh – belum ada Akar Bambu – untuk memainkan satu lagu. Kebetulan Mas Muh baru pulang dari pelayaran keliling Indonesia. Saya terkesima dengan aksi panggung Mas Muh. Sambil memainkan gitar tabungnya, Mas Muh bernyanyi tentang perjuangan hidup seorang nelayan.

Yang membuat saya takjub dengan aksinya, Mas Muh mampu membuat penonton menghayati suara dan suasana yang dihadirkan dengan cara berjalan berkeliling ruangan. Ya, satu ruangan yang dipenuhi mahasiswa IPB itu dia kelilingi. Efek suara yang dihadirkan pun sangat magis. Puitis. Kadang kuat, karena Mas Muh berada tidak jauh dari saya, dan terkadang lemah, saat Mas Muh memang berada cukup jauh dari saya. Begitu puitis.

Usai pertunjukan itu, saya terlibat obrolan serius dengan Mas Muh. Begitu intim kami bercerita tentang sastra dan musik. Tentu saja, kami bercerita tentang biola yang memang dia geluti sejak lama. Sejak saat itu, saya mengenalnya sebagai seorang pengrajin biola dari Ciomas, Kabupaten Bogor, bukan sebagai seorang penyanyi dan penulis lirik yang memikat. Oh iya, saya sempat memesan sebuah biola kepada Mas Muh.

Waktu berselang. Sejak pertemuan – lagi – dengan Mas Muh, yang saat itu tampil dengan nama Akar Bambu, pandangan saya terhadapnya berubah. Bagi saya, dia seorang penyair naturalis yang menggunakan media musik untuk berbicara. Saat pertemuan kedua dengan Mas Muh, eh, dengan Akar Bambu, lagu berjudul “Soedirman Soedjono” mengusik saya. Lirik lagunya begitu kuat dan memesona. Imaji saya mengembara ke mana-mana. Ke sebuah suasana yang tak asing.

Lagu ini mengisahkan seorang kakek bernama Soedirman yang resah gelisah melihat masa depan pertanian di Negeri yang katanya loh jinawi. Begini liriknya: jika suatu nanti / kakekmu tlah pergi / siapa yang akan menanam padi? / jika suatu nanti engkau telah dewasa / hijaukah tanah ini? / suburkah tanah ini? / masihkah tanah ini?

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), petani terbanyak ada di kelompok usia 45-54 tahun. Jumlah ini sebesar 7.325.544 orang dari jumlah petani (yang terdata) sekira 26.135.469 orang. Faktor utamanya karena laju urbanisasi, modernisasi dan industrialisasi. Inilah yang menyebabkan generasi muda, apalagi generasi milenial, menjauhi profesi menjadi seorang petani. Itu sebabnya, tiap tahun, jumlah petani menyusut hingga 5 juta orang dalam kurun waktu 2003-2013. Angka yang fantastis.

Apa yang dikhawatirkan Akar Bambu lewat lagu “Soerdirman Soedjono” berangsur terlihat. Negara ini memang sudah darurat penggarap pertanian. Ditambah banyak petani atau pemilik sawah yang menjual lahannya kepada pemodal besar untuk mendapatkan uang dengan cepat. Ini juga menjadi faktor hilangnya lahan-lahan garapan di desa dan perkotaan. Bogor sedang menuju ke arah sana.

Lahan-lahan garapan dikapitalisasi. Tak heran, banyak kita jumpai bangunan-bangunan perumahan berdiri di tengah-tengah persawahan. Bahkan pabrik yang tidak ada hubungannya dengan aktivitas pertanian pun kerap kita jumpai. Industrialisasi sudah menampakkan wajahnya. Sekali lagi, Akar Bambu lewat “Soedirman Soedjono” mengingatkan kita.

Lirik lagu yang reflektif itu mengajak kita sejenak untuk menatap masa depan pertanian kita. Masa di mana sawah berubah menjadi gedung-gedung mewah, rumah-rumah, dan pabrik-pabrik. Masa di mana anak cucu kita tak akan melihat lagi seorang petani membajak sawahnya di pagi hari. Masa di mana beras dikapitalisasi dan dikencingi cukong-cukong berwajah bidadari.

Sesaat, saya teringat peristiwa penggerebekan gudang beras milik PT Indo Beras Utama (PT IBU), Kamis malam (20/7) kemarin, oleh Tim Satgas Pangan Polri. Di tempat ini, ditemukan 1.161 ton beras merek Maknyuss dan Cap Ayam Jago. Singkatnya, Tim Satgas Pangan Polri menerima informasi tentang tudingan pengoplosan beras subsidi yang dianggap menggunakan jenis beras IR64. PT IBU yang terletak di Kedungwaringin, Bekasi, Jawa Barat menerima keuntungan hingga ratusan triliun rupiah. Bahkan, ada dugaan, stok beras di gudang PT IBU mencapai jutaan ton.

Sekali lagi, Akar Bambu lewat “Soedirman Soedjono” mengingatkan kita tentang masa depan pertanian kita. Masa depan petani-petani kita. Bahkan, masa depan kampus pertanian, di mana Mas Muh dan Akar Bambu berasal. Lewat lagu-lagunya, Akar Bambu sedang melakukan oto-kritik kepada lembaga pendidikan yang telah membesarkan mereka.

Bagi saya, Akar Bambu tidak sekedar bernyanyi. Akar Bambu sedang mendongeng. Dan saya menikmati dongeng ala Akar Bambu.

 
Dony P. Herwanto | Penikmat kopi, hujan dan musik di sore hari

Tidak ada komentar